Bekal Sukses

Rasulullah SAW bersabda, ” Siapa saja yang ingin menjadi manusia yang paling mulia maka bertaqwalah kepada Allah. Siapa saja yang ingin menjadi manusia yang paling kuat maka bertaqwalah kepada Allah. Dan siapa saja yang ingin menjadi manusia yang paling kaya maka hendaklah ia berpegang teguh terhadap kekuatan Allah daripada kekuatannya sendiri.” (HR Al Hakim)

Hadist diatas meski hanya terdiri atas beberapa kalimat, namun mengandung kunci sebagai bekal bagi seseorang Muslim dalam menghadapi aneka cobaan hidup ini, kunci-kunci tersebut adalah taqwa, tawakal dan berpegang teguh kekuatan Allah.

Kunci pertama, dan utama bagi siapa yang ingin menjadi manusia yang paling mulia adalah bertaqwa kepada Allah. Definisi taqwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Taqwa meliputi pekerjaan lidah, badan dan hati. Kesimpulannya jika kita tidak bertaqwa maka kita tidak akan hidup mulia. Contoh kecil berapa banyak orang yang dahulunya terhormat ketika lalai dan melakukan hal tak terpuji, melakukan korupsi, misalnya maka ia berbalik menjadi sampah masyarakat. Tidak hanya itu kadang-kadang masalah lainpun turut berdatangan akibat perbuatannya itu, nama baik keluarga tercemar anak istri menderita karena menjadi bulan-bulanan pemberitaan.

Kunci kedua, siapa saja yang ingin menjadi manusia paling kuat bertawaqallah kepada Allah. Pengertian tawakal adalah memercayakan diri kepada Allah dalam melaksanakan suatu rencana, bersandar kepada kekuatan-Nya dalam melaksanakan pekerjaan dan berserah diri di bawah perlindunganNya pada waktu menghadapi kesukaran. Setiap orang pasti akan mengalami suka dan duka, seseorang sekaya apapun dia, pasti pernah tertimpa masalah. Hidup yang penuh liku-liku ini apabila selalu stres yang mengantarkan pada gangguan fisik dan psikis.

Kunci ketiga, siapa saja yang ingin menjadi manusia paling kaya maka hendaklah ia berpegang teguh pada kekuatan Allah. Sabda Nabi SAW ini menegaskan bahwa seorang Muslim dalam segala aktifitasnya termasuk dalam hal mencari rezeki, ia harus selalu mengandalkan kekuatan Allah. Karena banyak hal yang kelihatannya mudah namun jika Allah menghendakinya menjadi sulit maka akan sulitlah bagi kita. Sebaliknya banyak hal yang kelihatannya sulit tetapi jika Allah memudahkannya maka akan mudahlah bagi kita.

 

Kata Tanpa Pahala

Kata merupakan rangkaian huruf yang saling bertautan. Sebuah kata mempunyai arti dan ibarat layaknya senjata tajam. Lewat kata, manusia dapat meneguk penghormatan ataupun kebahagiaan. Namun sebaliknya, dengan kata pula manusia dapat terjerembab dalam lubang nista yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Oleh karenanya, sebagai manusia beriman, kita dituntut untuk menjaga kata yang keluar dari mulut kita.

Pepatah mengatakan, ‘mulutmu, harimaumu’. Selain menjaga, manusia juga dituntut untuk memanfaatkan kata-katanya, tentu hanya dengan mengeluarkan kalimat yang bermanfaat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara kebaikan islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.” (HR Tarmidzi)

Perkara yang tidak bermanfaat banyak ragamnya, bisa berupa perkataan atau perbuatan yang haram, makruh atau perkara yang mudah yang kecil manfaatnya. Oleh karena itu, kita dituntut untuk selalu mengucapkan kata-kata yang mengandung manfaat dan menghindarkan diri dari kesalahan. Jika meragukan, sebaiknya diam. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan yang baik-baik atau diam.” (HR Bukhari)

Di samping di tuntut agar selalu berkata-kata yang kaya manfaatnya, Islam juga melarang untuk melakukan perdebatan yang dapat membangkitkan emosi, permusuhan, murka, atau menimbulkan dendam. Hal fundamental lainnya yang dapat menjerumuskan manusia adalah melakukan percandaan yang kelewat batas. Tetapi anjuran Islam sebagai agama yang suci adalah jangan menghabiskan keseluruhan waktu hanya untuk bercanda atau membuat tertawa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Janganlah kamu memperbanyak tertawa, karena sesungguhnya tertawa itu dapat mematikan hati.” ( HR Ibnu Majah).

Dengan berlebihan melakukan tawa, humor dan sejenisnya, hati kita akan tumpul dan ditakutkan terbuai oleh humorisme semata. Perbuatan-perbuatan tersebut sebaiknya dijauhkan dari kehidupan kita jika ingin menapaki kebahagiaan diakhirat. Pergunakanlah kata-kata untuk sesuatu yang banyak mendatangkan manfaat serta berkah. Niscaya kita akan terhindar dari kebutaan hati dan hampa pahala.

Kematian pasti terjadi

Dulu, Umar bin Khatab pernah berpesan, “Kafal mawtu waaidzan (cukuplah kematian sebagai penasihatmu)”. Pesan ini sangat penting terutama di zaman yang serba materialistis ini banyak orang mengira bahwa dengan menumpuk harta, usia akan diperpanjang, padahal telah terbukti bahwa para raja sepanjang sejarah meninggal dunia, sekalipun harta mereka masih banyak istana mereka masih kokoh dan pasukan mereka masih gagahpun telah terbukti bahwa tidak orang kaya yang terus hidup satu per satu dari mereka meninggalkan dunia untuk selamanya, karena itu tidak ada pilihan kecuali bersiap-siap untuk mati.

Dalam Al Qur’an, Allah SWT berulang-ulang berpesan bahwa kematian pasti akan dilalui. Allah berfirman, “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu, barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, sungguh ia telah beruntung kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakannya. “(QS Ali Imran[3] : 185). Kemudian Allah menegaskan lagi, “Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu di dalambenteng yang tinggi dan kokoh.” (QS Annisa’[4] : 78).

Inilah kematian yang pasti dialami setiap manusia. Semua tergantung amalnya. Bila amalnya baik, Allah akan membalas dengan keabikan. Sebaliknya, bila amalnya buruk akan dibalas dengan keburukan.

 

Kesempatan Terbaik


“Maka Allah SWT mengilhami kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.” ( QS Asysyam [91] : 8 – 10 ).

Ada pepatah yang mengatakan bahwa matahari pagi tidak akan terbit dua kali untuk menyapa manusia di hari yang sama. Kesempatan pun tidak akan datang dua kali dengan wajah yang berbeda. Kita hanya bisa memilih mempergunakan kesempatan itu atau menyia-nyiakannya sama sekali. Manusia hanya dituntut untuk memilih dan dari pilihan itulah masa depannya terbentang.

Kesempatan adalah waktu yang sangat berharga. Banyak orang yang gagal menggunakan kesempatannya sehingga ia pun menjadi orang yang gagal, sebaliknya banyak juga orang yang pandai menggunakan kesempatan yang ada sehingga ia pun menjadi orang berhasil. Islam sangat menghargai waktu banyak sekali ayat Al-Quran yang menyinggung masalah waktu. Demi keagungan waktu, Allah kerap kali bersumpah dengannya. Wal-Ashiri (Demi waktu), Wal-Fajri(Demi waktu fajar), Wa-Dhuha (Demi waktu dhuha), dan Wa-Laili(Demi waktu malam). Itulah bukti betapa berharganya waktu, utamanya kesempatan yang ada.

Allah menganugerahkan manusia peluang untuk memilih kesempatan. Pilihannya adalah konsekuensi bagi hasil yang akan diterimanya kelak. Jika kesempatan itu dikejawantahkan untuk hal yang bermanfaat, ia pun akan mendapatkan hasil yang baik. Sebaliknya jika ia menggunakannya untuk hal yang tidak bermanfaat atau malah menyia-nyiakannya, kerugianlah yang dideritanya.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.” (QS Al-Zalzalah [99] : 7-8)

Jika kita telah mengetahui betapa berharganya kesempatan yang ada, masihkah kita menyia-nyiakannya sehingga ia berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi?

Tanda Cinta

“Tanda cinta Allah adalah menyukai dzikrullah (dzikir kepada Allah). Dan tanda benci Allah adalah membenci dzikurullah azza wajalla.” (HR Baihaqi)

Cinta merupakan suatu fitrah emosional yang dianugrahkan Allah SWT kepada setiap makhluk-Nya. Cinta akan selalu hadir dalam tarikan nafas manusia, Cinta pula kadang menjadikan orang bahagia atau sengsara. Bicara serba-serbi cinta, tentu tidak akan ada habisnya, bahkan para sastrawan pun kesulitan mengungkapkan definisi cinta karena ia begitu relatif dan multi makna tergantung siapa yang mendefinisikannya.

Islam sangat menganjurkan kepada manusia agar mencintai sesama, asalkan cinta tersebut dalam koridor agama dan tidak melebihi cinta kepada Allah SWT. Ketika seseorang sudah jatuh cinta ia akan selalu mengingat dan memikirkan yang dicintainya itu. Maka jatuh cinta kepada Allah adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dielakkan bagi diri setiap Muslim, dengan cinta kepada Allah tentu kita akan selalu mengingatnya yang dalam islam disebut dengan dzikurullah karena dzikir merupakan manisfestasi cinta seorang hamba kepada Sang Khalik.

Dzikir adalah ibadah yang paling dicintai Allah, dzikir mrupakan amalan yang paling bersih disisiNya dan sangat tinggi tingkatannya, lebih dari itu pun berdzikir juga lebih baik dan afdhal daripada mendermakan emas, perak ataupun berlian serta berperang melawan musuh-musuh islam.

Hal ini juga diungkapkan dalam firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (Dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al-Achzab[33] : 41).

Dzikir dan cinta adalah satu kesatuan yang tidak dipisahkan, seseorang yang mencintai Allah ia akan selalu berdzikir kepadaNya, begitu sebaliknya orang yang selalu bardzikir kepada Allah, berarti ia sangat mencintaiNya. Sejatinya dzikir tidak harus dengan lisan dzikir bisa dengan hati bahkan dengan tindakan, dengan dzikir manusia akan menjadi semakin cinta kepadaNya dan dengan mencintai Allah manusia akan selalu menaati segala perintah dan menjauhi laranganNya.

TINGKAT INTELEKTUALITAS

Konsep Al Quran sebagai pedoman hidup, begitu serasi dengan konsep kenabian Muhammad SAW. Pada satu sisi Al-Quran membuka jalan ke arah lingkungan ilmiah melalui perkataan Iqra : bacalah. Ia tidak menyediakan secara langsung ilmu matematika atau aljabar, yang merupakan asas-asas penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi, ia mendatangkan lingkungan rasional (aqliyah) sebagai syarat mutlak perkembangan ilmu pengetahuan.

Di sisi lainnya dalam urusan duniawi, Rasulullah SAW tidak memperagakan klaim invalibilitas yang menolak pendapat orang-orang di sekitarnya. Tidak pula, mengumbar “kesaktian” layaknya para “orang suci” dalam dunia kekanak-kanakan kita. Hal itu dimaksudkan  agar semangat berpikir (aqliyah) yang merupakan roh dari budaya intelektual, dapat tumbuh subur dalam tubuh umat mislam. Simbol dan bentuk dari dukungan syari’i terhadap budaya intelektual, terwujud dalam bentuk pendirian suffa di madinnah, sebagai tempat pemberantasan buta huruf, yang didirikan sendiri oleh Rasulullah SAW. Ini selanjutnya menjadi spirit bagi terbentuknya sebuah peradaban emas, yang tak pernah dicapai oleh agama dan peradaban manapun, termasuk peradaban kontemporer.

Peradaban apik yang mampu menggalang harmoni antara ketaatan dan kecerdasan, laku spiritual dan tindak intelektual, kemakmuran materi dan kekayaan rohani, serta aspek ukhrawi dengan aspek duniawi. Itulah bentuk manifestasi nyata dan artikulasi paling fasih akan firman Allah SWT.

“Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu dan telah kucukupkan padamu nikmat Ku, dan telah kuridhai islam itu menjadi agamamu.” (QS AL Maidah [5] : 3).

Amat disayangkan pada era kekinian, ayat tersebut tak cukup mampu kita artikulasikan dengan fasih lain, akibat kejahilan kita sendiri yang gagal dan enggan menjaga keseimbangan ajaran genuine islam.

Sebab sesungguhnya tingkat intelektualitas dapat menjadi tolak ukur, lurus tidaknya akidah seseorang dalam berIslam. Serta, menentukan tingkat penguasaan seseorang akan wahyu generik (non verbal), yang didapat melalui proses penalaran ilmiah, eksperimen dan tindak intelektual lainnya.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.